<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3331759007220291602</id><updated>2012-04-23T06:33:29.476-07:00</updated><title type='text'>Credential Asset  (WARISAN BUDAYA BERNILAI EKONOMI)</title><subtitle type='html'>Kekuatan bangsa di konten; mobile, web. Menurut Thomas Friedman, dunia kian datar, terkonvergensi. Ini wadah Anda membaca perjalanan  kreatif; konten,  menuju perolehan   US $ tak terhingga. Pernah berjibaku di MATRA (1985-86), SWA (1986-89), lalu membuka usaha di konten dan animasi serta memiliki porto folio melalui R&amp;D kreatif panjang. Kembali ke  jurnalistik,  menggagas dan membawakan program televisi: menggerakkan lokomotif baru bagi perubahan Indonesia yang seharusnya sejahtera.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Narliswandi (Iwan) Piliang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18335517641358646511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/SvfRlddXxZI/AAAAAAAAADg/zxussI8F_EQ/S220/ayah.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>16</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3331759007220291602.post-2733023596631092356</id><published>2009-11-09T00:30:00.000-08:00</published><updated>2009-11-09T03:01:21.999-08:00</updated><title type='text'>Lajut Lagi Presstalk</title><content type='html'>Kawan-kawan yang budiman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu dekat, program teve presstalk, akan segera on air lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga ini menjadi  ksempatan berharga melahirkan programtalkshow yang baik, bertanya tajam kepada sumber yang dihadirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3331759007220291602-2733023596631092356?l=iwanpiliang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/feeds/2733023596631092356/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3331759007220291602&amp;postID=2733023596631092356' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default/2733023596631092356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default/2733023596631092356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/2009/11/lajut-lagi-presstalk.html' title='Lajut Lagi Presstalk'/><author><name>Narliswandi (Iwan) Piliang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18335517641358646511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/SvfRlddXxZI/AAAAAAAAADg/zxussI8F_EQ/S220/ayah.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3331759007220291602.post-5868259208675644356</id><published>2008-02-20T00:37:00.000-08:00</published><updated>2008-02-20T01:04:14.764-08:00</updated><title type='text'>Aliran Dana BI Bertali Temali ke BLBI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/R7vpKvzKQQI/AAAAAAAAACU/MpbR12nFlX4/s1600-h/blbi+19+feb.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/R7vpKvzKQQI/AAAAAAAAACU/MpbR12nFlX4/s200/blbi+19+feb.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5168981368176787714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam pengambilan gambar PRESS TALK pada Selasa, 19 Februari 2008 kemarin, hadir sebagai tamu adalah Fuad Bawazier, Permadi, Anggota DPR komisi I, dari fraksi PDIP dan Arbab Paproeka, anggota DPR komisi III, dari fraksi PAN. Topik sebagaimana judul di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada catatan khusus saya dalam pengantar talk show ini. Untuk ketiga kalinya Fuad tampil di program ini.  Alasannya, di tiga topik terakhir ini yang dikupasa dalah berkait ke keberadaan anggota parlemen, otoritas pemerintah dan  latar pendidikan di bidang keuangan, plus bicara Fuad apa adanya, seperti mengatakan, "Presiden cuma boneka ekonomi," di topik episode lalu, menjadi magnitud kuat menghadirkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam dialog mengemuka, bahwa aliran dana  Rp 31,5 miliar (dari Rp 100 miliar kasus)  yang mengalir  dari BI ke DPR,  ternyata berkait ke soal isu BLBI yang harus  diredam, termasuk kekuasaan untuk mendirikan Otoritas Jasa Keungan (OJK), yang semula hendak dilepas dari Bank Indonesia, kemudian memang mendingin dan tetap hingga hari ini masih di pangkuan ranah BI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KPK, yang di awal jabatan ketuanya Antasari Azhari, memberi angin segar dengan ditangkapnya  Walikota medan dan Wakilnya, juga dengan ditangkapnya Rusdiharjo, mantan Kapolri, tetapi bergeming pada kasus aliran dana BI. Dari 17 nama tersangka  yang dicekal, satu nama yang semula di duga kuat menerima aliran dana, HY (Hamka Yandhu), tidak masuk dalam sosok dicekal. Apakah kerana keberadaan yang bersangkutan memiliki kedekatan dengan meteri Hukum, juga menjadi tangan Golkar, dalam hal ini Jusuf Kalla ke  parlemen bagi kepenting Golkar, dikupas juga secara jernih dalam dialog ini. HY adalah salah satu bendahara Golkar. ia juga bendahara PSSI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti menurut PERMADI, dialog macam talk show PRESS TALK tetap diperlukan untuk pencerahan bagi masyarakat. Sebagai media alternatif, talkshow alternatif, pada episode ini, lagi-lagi premisnya adalah: kepentingan uangn  receh, telah membuat negara masuk ke lembah hina,  menihilkan logika, integritas dan hatinurani. Simak dialognya minggu depan, Senin 25 Februari pukul 23.00 di QTV, Selasa pukul 23.00 di SWARA dan Rabu pukul 17.00.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3331759007220291602-5868259208675644356?l=iwanpiliang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/feeds/5868259208675644356/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3331759007220291602&amp;postID=5868259208675644356' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default/5868259208675644356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default/5868259208675644356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/2008/02/aliran-dana-bi-bertali-temali-ke-blbi.html' title='Aliran Dana BI Bertali Temali ke BLBI'/><author><name>Narliswandi (Iwan) Piliang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18335517641358646511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/SvfRlddXxZI/AAAAAAAAADg/zxussI8F_EQ/S220/ayah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/R7vpKvzKQQI/AAAAAAAAACU/MpbR12nFlX4/s72-c/blbi+19+feb.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3331759007220291602.post-4090630117198976137</id><published>2008-02-04T20:16:00.000-08:00</published><updated>2008-02-04T20:20:10.897-08:00</updated><title type='text'>Memandirikan Ekonomi Bangsa</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/R6fjeaBtN8I/AAAAAAAAAB4/sxOhvUC6Yjs/s1600-h/freeze+4+feb+08.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163345609325623234" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/R6fjeaBtN8I/AAAAAAAAAB4/sxOhvUC6Yjs/s200/freeze+4+feb+08.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; “Saya lihat dua media besar kita, selalu berpihak kepada Wijoyonomic,  yakni Kompas dan Tempo?” tanya Rizal Ramli, mantan Menkoperekonomian di era Gus Dur, kepada Budiarto Shambazy, wartawan KOMPAS yang mengasuh rubrik POLITIKA, di sela rekaman gambar PRESS TALK, bertopik Memandirikan Ekonomi Bangsa, 4 Februari pukul 15.00 -16.00 di studi SWARA, Gedung DPR-RI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budiarto membernarkan bila sosok Jacob Oetama memang memuja Widjojo cs. “Tetapi Kompas juga memberi porsi untuk ekonom macam Mubyarto,” sanggah Budiarto. Selain mereka berdua, tampil kembali Fuad Bawazier, yang dalam PRESS TALK episode  Menyigi Kesejahteraan Rakyat … mengatakan, “Presiden hanya boneka ekonomi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden hanya boneka ekonomi karena cengkeraman kepentingan AS melalui tangan IMF, World Bank dan WTO. Di Indonesia tangan-tangan AS itu diwakili oleh mereka yang diistilahkan Mafia Berkeley.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mafia Berkeley adalah nama yang sudah membaku sebagai label atau trade mark untuk sekelompok ekonom dengan mazhab pikiran kapitalisme yang dianutnya secara konsisten dan militan. Umumya mereka adalah para alumni dari Universitas Berkeley di California. Meski sekarang anggota mafia ini tidak harus lulusan Berkeley. Asal ekonom itu ’setia’ dalam menjalankan kebijakan-kebijakan Washington Consesus, mereka dinamakan juga sebagai anggota Mafia Berkeley.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka itu adalah yang meyakini dan menerapkan kapitalisme dan dengan bangganya menyebut dirinya sebagai libertarian. Dan ’kebetulan’ mereka mayoritas berasal dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Sederat nama bisa kita sebut sebagai anggota mafia ini. Wijoyo Nitisastro (ketua tim Mafia Berkeley), Soemitro Djojohadikusumo, Ali Wardhana, Emil Salim, M. Sadli, Subroto, adalah generasi angkatan pertama Mafia Berkeley ini. Untuk generasi sekarang diwakili oleh Boediono (Menteri perekonomian), Sri Mulyani (menteri keuangan), M. Ikhsan (LPEM UI), Chatib Basri (ekonom UI) serta Rizal Malangrangeng (Freedom Insititute).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Sri Edi Swasono mengatakan, nama-nama terakhir ini lebih ‘libertarian’ ketimbang pendahulunya. Merekalah yang saat ini menjalankan agenda-agenda kapitalisme global dengan pro-IMF, pro-AS, pro-utang luar negeri, pro-WTO dan terkagum-kagum pada globalisasai dan pasar bebas yang diciptakan oleh AS. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan oleh Rizal Ramli, bahwa Mafia Berkeley juga berfungsi sebagai alat untuk memonitor agar kebijakan ekonomi Indonesia sejalan dan searah dengan kebijakan umum yang digariskan oleh Washington.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kian nyata dan aneh memang, kehidupan ekonomi rakyat kebanyakan hari ini kian sulit, jika prakteknya penjajahan  dan ketidakberkembangan ekonomi rakyat, juga ikut disukseskan penghancurannya oleh bangsa sendiri, yang mebawa nafas “tuannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dibayangkan  kita kaya sumber daya alam kian melayang, kian tidak tak tergarap.. Lebih aneh lagi jika media justeru menjadi pendukung “penjajahan” terhadap bangsanya sendiri itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penayangan episode Memandirikan Ekonomi Bangsa mulai Senin depan di QTV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini pengantar saya membuaka dialog di acara ini.&lt;br /&gt;Selamat bertemu dengan PRESS TALK, wadah orang media dan orang yang ditulis media bicara, bersama saya Iwan Piliang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih atas segala perhatian dan sambutan Anda kepada program ini. SMS, email yang masuk memberikan kami pemahaman, bahwa kita memang memerlukan alternatif media, alternatif topik, alternatif langgam dan ketajaman. Juga alternatif jernih menyampaikan premis. Anda dapat pula  berkomunikasi ihwal program ini di blogs saya. iwanpiliang.blogspot.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemirsa, topik dialog kita  kali ini, Memandirikan Perekonomian  Bangsa. Pekan-pekan ini kita  menyimak berbalas ungkapan tari antara Megawati dan Jusuf  Kalla. Megawati bilang negeri kita bergerak macam  poco-poco. Kalla jawab, poco-poco lebih oke daripada dansa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri kita memang lucu tak terkira..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat banyak anak negeri untuk makan sehari, menjadi kemewahan,  dan kian banyak saja suara keriuk  cacing  yang menai   di perut  lapar lebih 17.000 anak kurang gizi di NTT, kita hadapi saat ini, misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber daya alam yang luar biasa, tidak sepantasnya membuat  37 juta lebih pengangguran.  750.000 sarjana baru yang tiap tahun  dicetak  adalah aneh bin ajaib  untuk menganggur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara belum mampu mensejahterakan rakyatnya. Lebih parah kemandirian ekonomi kian pah-poh. Negeri bahari dan pertanian ini mengimpor garam 1,5 juta ton  atau 50% dari kebutuhan setahun. Impor sapi mencapai 600.000 ekor, atau 25% kebutuhan nasional. Impor kedelai 2 juta ton, atau 49% dari kebutuhan nasional. Beras tahun ini akan diimpor lebih 2 juta ton. Susu  mencapai 90% impornya. 1,3 juta ton gula  masih datang dari Autralia. Masih banyak tentu angka-angka lain, bahkan alginat sebagai bahan pengemulsi untuk susu yang bahannya darui rumput laut, kita impor mencapai US $ 60 juta setahun. Entah dilaknat apa kita kiranya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar dengan penduduk mendekati 250 juta orang ini seakan telanjang; telekomunikasi, perbankan, hingga  migas dan lahan  tambang lain, dikuasai asing. Pernah dipaparkan di program ini, lahan berdeposit batubara di Kaltim seluas 4.500 ha, dilego ke asing  Rp 30 miliar saja. Di dalamnya bukan mustahil beragam mineral, bahkan uranium ada, belum termasuk kandungan hayati lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada lagi bank sebagai agent of development. Butir-butir perjanjian dengan IMF, yang ditandatangani 1998, telah membuat BI independen dari pemerintah, tapi tidak independen dari IMF, begitu pula banyak butir kesepakatan  lainnya, yang membuat seakan negeri ini terjajah, tidak mandiri mengembangkan SDA-nya, tidak mandiri mengembangkan kekuatan militernya. Patok batas negara kita  dipermainkan jiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan hidup ini  timbul lebih karena kepentingan asing dan laku segelintir orang Indonesia yang menjual bangsa, yang dilegalkan melalui Undang-Undang di DPR-RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak fair memang bila Cuma menuding pemerintahan sekarang. Tetapi  bila seorang presiden cuma  boneka ekonomi, bagaimana kita berbangsa bisa  keluar dari kedaan ini? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;iwanpiliang.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3331759007220291602-4090630117198976137?l=iwanpiliang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/feeds/4090630117198976137/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3331759007220291602&amp;postID=4090630117198976137' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default/4090630117198976137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default/4090630117198976137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/2008/02/memandirikan-ekonomi-bangsa.html' title='Memandirikan Ekonomi Bangsa'/><author><name>Narliswandi (Iwan) Piliang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18335517641358646511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/SvfRlddXxZI/AAAAAAAAADg/zxussI8F_EQ/S220/ayah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/R6fjeaBtN8I/AAAAAAAAAB4/sxOhvUC6Yjs/s72-c/freeze+4+feb+08.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3331759007220291602.post-84936857728199875</id><published>2008-01-17T07:10:00.000-08:00</published><updated>2008-01-17T07:29:16.773-08:00</updated><title type='text'>INDUSTRI RITEL dan AREA REKREASI</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/R49wbIkT0UI/AAAAAAAAABw/Ujt9mBDF_HQ/s1600-h/retail+ok.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156463709821063490" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/R49wbIkT0UI/AAAAAAAAABw/Ujt9mBDF_HQ/s320/retail+ok.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;REKAMAN gambar PRESS TALK pada, 17 Januari 2008, pukul 17.00 -18.00, topik sebagaimana di atas.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hadir dalam kesempatan ini, Hari Darmawan, pendiri Matahari Departemen Store - - yang kini tinggal memiliki 2% saja saham di Matahari - - kini mengembangkan Mall-Mall di kota Kabupaten, seperti di  Cianjur, Karawang dan beberapa tempat lain. Hadir juga  Handaka Santosa, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia yang juga CEO Senayan City.  Juga, Budi Karya Sumadi, Dirut PT Jaya Ancol Tbk..&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mempertemukan topik iritel dan area rekreasi menjadi fenomenon pertama di media, begitu komentar Handaka. "Karena  ritel dan rekreasi memang kini sudah menyatu, " katanya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tetapi menghadirkan Ancol, sebagai sebuah konten lokal yang sukses, sebagai sebuah contoh kasus untuk area rekreasi lokal yang memimiliki fenomena, menguntungkan secara bisnis, menjadi BUMD pertama dan satu-satu yang sudah go public, kini merambah usaha ke Vietnam, juga ke tingkat kabupaten seperti di Tenggarong, Kaltim. Ini artinya,  juga kita mau, jika kemauan politik pemerintah ada, suatu peluang, bisa menjadi kisah sukses signifikan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kisah sukses signifikan lain, pada Matahari Departemen Store. Ia lagi-lagi murni buatan lokal. Tetapi krismon dan kebijakan yang berpihak kepada neoliberalisme, membuat pengusaha besar berjatuhan, dan asset perusahaan bagus Indonesia beralih kepada asing - - ini sebagai benang merah dilog dan topik PRESS TALK. Tak heran  Hari Darmawan mengatakan dalam dialog, "Soeharto itu papa bisnismen," Artinya Soeharto, menurut Hari, selalu melakukan dialog dengan pengusaha, apa masalah, apa yang mesti dibantu. Hal ini ditambahkan Handaka, bahwa saat ini, pengusaha seakan memiliki hambatan komunikasi  dengan pengusaha. Padahal Industri ritel menyerap tenaga kerja besar, nomor dua setelah pertanian.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bagaimana industri ritel Indonesia ke depan? Simak PRESS TALK episode ini di QTV pada  sepuluh hari ke depan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Berikut pengantar dialog saya:&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pemirsa,&lt;br /&gt;Selamat bertemu kembali  dengan program PRESS TALK, Wadah Orang Media dan Orang yang Ditulis Media Bicara, bersama saya Iwan Piliang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mengucapkan terima kasih atas kritik,  komentar yang masuk, sms  yang datang bertubi menyikapi topik PRESS TALK yang telah tayang.  Untuk itu jangan bosan layangkan komentar ada melalui sms ke  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topik kita kali ini Industri Ritel dan Area Rekreasi, lagi sebuah topik mikro, sektor riil, yang  di dalam industri mampu menciptakan lapangan kerja besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kesempatan sebelum ini, PRESS TALK, banyak bicara tentang ekonomi, tentang situasi makro, tentang  situasi yang mengerucut ke  bagaimana  International Monetery Fund (IMF), Bank Dunia, dan  skema World Trade Organizasation (WTO), melalui tangan-tangannya, telah membuat  INDONESIA yang kaya raya sumber daya alam (SDA), kaya raya sumber daya manusia (SDM), kaya raya inovasi - - seperti telekomunikasi rakyat yang dikembangkan komunitas Onno Widodo Purbo dari sudut ICT , yang juga telah tampil di program, seakan hanya  suguhan yang bunyi di kalangan rakyat kebanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklim dan kenyataan yang tercipta, seakan seakan kita tak berkekayaan alam, seakan akan cuma  beraset perilaku SDM beretos kerja lemah. Inilah keadaan yang menyelimuti bagiakan kulit ari buah yang kian lama kian tebal saja. Ia  selalu diuarkan, oleh semacam koalisi busuk, sebagaimana diistilahkan Ichsanudin Noorsy, dari Indonesia Bangkit di forum PRESS TALK ini pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan sesungguhnya bisa beda. Jika saja kita memiliki pemimpin visioner dan berani, jika saja aset SDA dan SDM yang luar biasa itu, seperti mengutip kalimat Fuad Bawazier, dalam PRESS TALK yang lalu,  Menyidik Kesejahteraan Rakyat,  tidak ada alasan  bahwa bangsa ini  miskin, tidak ada alasan rakyat harus antri sembako, tidak ada alasan sengsara, apalagi hina dina, seakan terjajah di negerinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang memang  pemimpin pilihan rakyat yang  tercipta laksana “boneka ekonomi”, sebagaimana diungkap Fuad, memang telah membuat masyarakat kebanyakan lunglai, daya beli lemah, pengangguran bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciputra, pengusaha  2007 pilihan Ernst &amp;amp; Young, yang juga pendiri Taman Impian Jaya Ancol, mengatakan pengusaha di Indonesia hanya 0,08% dari jumlah penduduk. 750.000 lulusan sarjana setiap tahun menganggur. Kita perlu terobosan menggerakkan sektor riil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu saat ini di studio saya telah  hadir insan-insan luar biasa. Mereka  bergerak, bersuara, mengedepankan kekuatan potensi bangsa sendiri, untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri, khusunya di industri ritel dan area rekreasi; kita akan menyigi ihwal ini&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3331759007220291602-84936857728199875?l=iwanpiliang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/feeds/84936857728199875/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3331759007220291602&amp;postID=84936857728199875' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default/84936857728199875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default/84936857728199875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/2008/01/industri-ritel-dan-area-rekreasi.html' title='INDUSTRI RITEL dan AREA REKREASI'/><author><name>Narliswandi (Iwan) Piliang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18335517641358646511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/SvfRlddXxZI/AAAAAAAAADg/zxussI8F_EQ/S220/ayah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/R49wbIkT0UI/AAAAAAAAABw/Ujt9mBDF_HQ/s72-c/retail+ok.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3331759007220291602.post-474116201489660697</id><published>2008-01-07T04:27:00.000-08:00</published><updated>2008-01-07T04:30:56.086-08:00</updated><title type='text'>MENYIGI  KESEJAHTERAAN  RAKYAT  MENUJU  MASYARAKAT  MADANI</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/R4IbDokT0TI/AAAAAAAAABo/T0QWPtoTQdQ/s1600-h/press+talk+4+jan+(1).jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5152710672908538162" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/R4IbDokT0TI/AAAAAAAAABo/T0QWPtoTQdQ/s320/press+talk+4+jan+(1).jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;REKAMAN gambar  PRESS TALK episode 6, berlangsung pada Jumat, 4 Januari 2008, pukul 17.30. Penayangan direncanakan mulai tanggal  14 Januari 2008.  Press Talk, Wadah Orang Media danOrang yang Ditulis Media Bicara, mengambil topik: Menyigi Kesejahteran Rakyat Menuju Masyarakat  Madani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampil sebagai tamu; Fuad Bawazier, Mantan Menteri Keuangan, Ichsanudin Noorsy, Pengamat Ekonomi, dan Alif H. Gaffar,  Ketua Umum GNM3 (Gerakan Nasional Menuju  Masyarakat  Madani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mengemuka secara hangat dalam dialog adalah; bahwa  Indonesia, “Dikuasai oleh koalisi busuk,” kata Noorsy.  Sedangkan menurut Fuad, ”Siapa pun presiden sejak 40 tahun lalu sistem ekonomi tidak berubah. Presiden hanya semacam boneka ekonomi.” Sistem menghamba kepada kepentingan neo liberalisme Amerika Serikat, dengan segenap negara kaki tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih celaka kaki tangan AS, melalui IMF dan Bank Dunia di  Indonesia, difasilitasi oleh mereka yang pernah belajar di AS - - yang dalam  skala eksklusif  dijuluki  Mafia Berckeley (mereka para ekonom yang lulusan perguruan tinggi AS, tak memulu dari University of Berckeley, termasuk luklusan Harvard, Geoge Washington) - - tidak pernah pro pada mensejahterakan rakyat. Sebaliknya, mereka mendukung bangsa ini kian “terjajah”, penguasaan sumber daya alam kian dikuasai asing. Aset dan potensi pasar serta peluang SDM anak negeri tumbuh berkembang justeru kian pudar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sebagai anchor sempat menanyakan seberapa banyak Mafia Berckeley itu, “Seribu, dua ribu, atau hanya beberpa gelintir orang saja? Kenapa 230 juta penduduk justeru kalah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekonomi  makro yang  selalu dijadikan indikator  pertumbuhan oleh negara, hanyalah sebuah kamuflase, yang sesungguhnya tidak mencerminkan keadaan riil masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini pengantar saya, sebagai anchor PRESS TALK:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemirsa, Selamat  Tahun Baru  2008, selamat  berjumpa  pada Program PRESS TALK,   bersama saya Iwan Piliang. Mengawali 2008 ini, topik kita: Menyigi Kesejahteraan Rakyat Menuju Masyarakat Madani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah tugas negara mensejahterakan rakyatnya. Dari sudut masyarakat kebanyakan, ukuran sejahtera, ternyata, tidaklah muluk. Mereka hanya butuh perut terisi, pendidikan anak murah, pelayanan kesehatan gratis. Setidaknya ini poin utama yang dapat  kami tangkap dari menjaring jawaban pertanyaan di berbagai daerah melalui jaringan PWI-Reformasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden SBY membantah data kemiskinan yang dilansir oleh Wiranto, melalui iklan di beberapa media di penghujung 2007 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tak ingin ikut berdebat-debat ihwal angka itu, tetapi meyakini bahwa data berikut:&lt;br /&gt;37 juta jiwa penduduk miskin  berpendapatan kurang dari Rp 180 ribu, sekitar US $ 20 saja perbulan. 150 orang terkaya menguasai APBN lebih dari 50 persen. Angka pengangguran masih 30 juta,  kebijakan  moneter berbunga tinggi mengimingi  pemilik modal tidak lari membuat biaya  mahal. Bank Indonesia memberi bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI), membuat dana dari berbagai  daerah mengendap  tidak produktif.  Angkanya  mencapai  Rp 60 triliun pertahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyerapan anggaran pemerintah di dua tahun terakhir di bawah 60%, kian memperkokoh keadaan bahwa sektor  riil tidak bergerak. Sebaliknya mengundang investasi asing masuk, membuat penguasaan sumber daya alam kita, justeru kian “tergadai” , termasuk potensi pasar yang besar. Contoh kongkrit  pasar telekomunikasi, keuntungannya dinikmati pihak asing. Penciptaan lapangan kerja dari iming-iming investasi asing pun menjadi tanya, karena yang timbul adalah peluang kerja out sourcing  nir jenjang karir dan nisbi pensiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang pengelolaan pangan, swasembada beras  kian jauh panggang dari api. Bila 2006 impor beras Indonesia mencapai 850.000 ton, pada 2007 angkanya sudah 1.500.000 ton. Dengan akan banyaknya terjadi musibah banjir tahun ini, menjadi dapat dipastikan bahwa impor beras diperkirakan lebih 2 juta  ton tahun 2008. Program subsitusi pangan selain beras tidak berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trias politika, yang membangun masyarakat sipil yang pluralis, sebagai acuan masyarakat madani,  yang di awal reformasi begitu bunyi sebagai jalan mensejahterakan rakyat, kini redup, jika tak ingin disebut  mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah rakyat memang meningkat  kesejahteraannya?  Sebuah pertanyaan yang sesungguhnya mudah untuk dijawab dan dirasakan. Ini fokus dialog kita hari ini.(IP)&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3331759007220291602-474116201489660697?l=iwanpiliang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/feeds/474116201489660697/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3331759007220291602&amp;postID=474116201489660697' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default/474116201489660697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default/474116201489660697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/2008/01/menyigi-kesejahteraan-rakyat-menuju.html' title='MENYIGI  KESEJAHTERAAN  RAKYAT  MENUJU  MASYARAKAT  MADANI'/><author><name>Narliswandi (Iwan) Piliang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18335517641358646511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/SvfRlddXxZI/AAAAAAAAADg/zxussI8F_EQ/S220/ayah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/R4IbDokT0TI/AAAAAAAAABo/T0QWPtoTQdQ/s72-c/press+talk+4+jan+(1).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3331759007220291602.post-5988037891344583796</id><published>2008-01-07T04:16:00.000-08:00</published><updated>2008-01-07T04:26:43.074-08:00</updated><title type='text'>ICT INDONESIA ke DEPAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/R4IYkIkT0SI/AAAAAAAAABg/XQq5M27c_q8/s1600-h/press+talk+4+jan+(2).jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5152707932719403298" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/R4IYkIkT0SI/AAAAAAAAABg/XQq5M27c_q8/s200/press+talk+4+jan+(2).jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; ICT INDONESIA ke DEPAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekaman PRESS TALK, 4 Januri 2008, pukul 19.30, dengan topik Information Communication  Technology (ICT Indonesia ke Depan). Atau Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia ke Depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadir sebagai tamu,  Onno W. Purbo, yang mengaku sebagai rakyat. Kami menyebutnya Innovator Rakyat. Sosok yang  secara fantastis mengembangkan RT/RW Net, juga pengembang Wajan Bolic untuk akses WiFi. Melalui handset 3G, ia mampu berkomunikasi selular yang nir kartu selular,  dan sudah masuk di era 4G. Tetapi teknologi temuan anak negeri ini, lebih mendapatkan apresiasi, seperti di Afrika dan Amerika Latin. Ia menganut paham, bahwa copy right, bahkan paten sekalipun yang dimiliki, dilepas saja ke publik. melalu laku demikian, Onno mengaku mendapatkan banyak kemaslahatan dari dunia, bukan cuma dari negerinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sampaing Onno, hadir juga  Eddy Satrya, Asisten Deputi Telematika &amp;amp; Utilitas Kantor, Menkoperekonomian. Ia diajak tampil berkait pada  27 Desember 2007 lalu menyelenggarakan sebuah seminar di Kantor Menkoperekonomian. Buah diskusi itu telah menjadi diskusi yang hangat di berbagai milis telematika di internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamu berikutnya adalah, Loly Amalia, Direktur Sistem Informasi Perangkat Lunak dan Konten, Depkominfo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arah pengembangan kekuatan bangsa di bidang ICT ke depan memang tidak jernih. Keberpihakan pengembangan telekomunikasi, contohnya, tidak berorientasi kepada masyarakat banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang konten pun, Depkominfo mencoba membuat inkubator konten dan aplikasi. Tetapi, sayang anggaran tersedia hanya Rp 1,5 miliar tahun ini, dan  digunakan untuk melakukan beauty contest.  Padahal kesenjangan digital (digital devide), sudah kian kental, yang memerlukan langkah percepatan luar biasa - - terutama untuk pengembangan konten di mana Indonesia punya potensi mendatangkan US $ miliaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi kebutuhan venture capital riil, tetap tidak pernah dan akan bisa direalisasikan pemerintah - - karena pemerintah memang kehilangan orientasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut pengantara anchor dalam PRESS TALK yang  rencananya akan disiarkan  mulai 14 januari 20078 nanti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Topik &lt;/strong&gt;kita kali ini Information,  Communication Technologi (ICT)  Indonesia ke Depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia ke Depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini jika berbicara soal ICT, yang selalu dikemukakan adalah sesuatu yang canggih. Karena kecanggihan itu bukanlah pakem orang awam, di beberapa daerah pembuatan situs internet atau website, yang sesungguhnya salah satu medium komunikasi dari media komunikasi yang ada, seakan-akan barang yang juga canggih. Kibatnya beberpa website berdomain go.id berbiaya miliaran rupiah. Yang paling hangat urusan situs pasriwisata yang berbiaya mencapai Rp 17 miliar dan menjadi topic hangat dibicarakan di milis-milis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur yang terkandung di dalam ICT, berupa hardware, software dan konten/aplikasi, yang sesungguhnya jernih, dan tidak rumit-rumit amat untuk dipahami, seakan tertutupi oleh isu kecanggihan ICT. Padahal kalaupun ada unsure yang harus memang canggih, ia adalah bagian dari infrastruktur, yang kalau dijabarkan juga tidak melibat suatu hal yang luar biasa tak mungkin dicapai dan dikuasai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi begitulah keadaan di masyarakat.  Arah ke mana kekuatan ICT bangsa hendak ditujukan hingga kini belum baku dan paku tujuan dilangkahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghunjung 2007 lalu, kantor kementrian Menkoperekonomian membuat diskusi akhir tahun ICT. Hasilnya berbagai milis ICT, heboh mendiskusikan. Bahkan hingga hari ini masih dalam topik hangat di milis-milis telematikan, juga yang terkait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang apakah ICT,  benarkah sesuatu yang canggih, mahal, untuk kita berdialog pada kesempatan ini&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3331759007220291602-5988037891344583796?l=iwanpiliang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/feeds/5988037891344583796/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3331759007220291602&amp;postID=5988037891344583796' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default/5988037891344583796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default/5988037891344583796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/2008/01/ict-indonesia-ke-depan.html' title='ICT INDONESIA ke DEPAN'/><author><name>Narliswandi (Iwan) Piliang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18335517641358646511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/SvfRlddXxZI/AAAAAAAAADg/zxussI8F_EQ/S220/ayah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/R4IYkIkT0SI/AAAAAAAAABg/XQq5M27c_q8/s72-c/press+talk+4+jan+(2).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3331759007220291602.post-6312981192188307894</id><published>2007-12-18T17:40:00.000-08:00</published><updated>2007-12-18T17:52:38.938-08:00</updated><title type='text'>Menguras Energi Calon TKI</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/R2h2v4kT0RI/AAAAAAAAABY/enkcYctznU4/s1600-h/_+(4).JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5145493139281400082" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/R2h2v4kT0RI/AAAAAAAAABY/enkcYctznU4/s320/_+(4).JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Rekaman gambar episode ke-5 PRESS TALK, berlangsung pada Selasa, 18 Desember 2007, pukul 17. Tamu yang hadir, M. Jumhur Hidayat, Kepala  Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) - - sebuah badan yang baru berumur setahun yang langsung dibentuk dan berada di bawah presiden - - Novel Ma'ruf, PJTKI, dan Umar Ali dari Perhimpunan Rakyat Nusantara, sebuah LSM yang mengamati masalah tenaga kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penayangannya pada awal Januari 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut kalimat pengantar saya dalam dialog tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemirsa selamat bertemu kembali dalam program PRESS TALK, Wadah Orang media dan Orang yang Ditulis Media Bicara, bersama saya Iwan Piliang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topik kali ini: Menguras Energi TKI  Berjuang ke Luar Negeri, sebuah topik mikro, yang menyimpan  mancaragam persoalan tambun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DR Hendri Saparini, Direktur Eksekutif Econit, yang pernah hadir di program ini, mengatakan, “Di negeri ini bertambahnya pengangguran, bertambahnya jumlah rakyat miskin, tidak membuat seorang presiden jatuh. Beda dengan negara maju.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turunnya daya beli rakyat kebanyakan, pengangguran sudah mencapai 30 juta lebihm rakyat miskin yang berpenghasilan Rp 180 ribu/bulan atau setara US$ 20/perbulan 37 juta, seakan menjadi angka-angka tulisan media, yang hanya  lewat begitu saja. Paling cuma tercetak di koran, koran bekas lalu dikilokan, didaur ulang. Kini siklus pemberitaan kepahitan yang beulang-ulang, ya macam daur  kertas, yang cum: dibaca, dilihat,  lantas hilang (dibaca dengan nada macam iklan BI soal uang palsu itu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan wartawan  anggota Persatuan Wartawan Reformasi Indonesia dari NTT, AWAL September 2007, dari Dinas Kesehatan Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT) menyebutkan  11.038  anak balita kurang gizi. 1.117 anak menderita gizi buruk.  Dari mereka  yang berasupan minim  itu, dua puluh sembilan  mengalami busung lapar. Enam balita mati. Kekeringan, hama belalang seakan membuat penduduk frustasi. Seorang ibu di desa Nian, Kecamatan Miomafo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara, sekitar 210 kilometer dari Kupang, ibu kota NTT, sampai harus mengumpulkan asam jawa yang jatuh dari pohon di radius 3 km di dekat rumahnya. Seharian asam jawa seember seukuran 5 liter, hanya laku Rp 2000, seharga sekali parkir di jalanan umum Jakarta. Ini bukan kisah 20 tahun lalu. Tetapi di bulan ini di tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan pahit inilah menjadi latar  utama, pilihan mencari peruntungan bekerja di negeri orang menjadi alasan utama.  Luar negeri seakan memberikan seberkas lilin cahaya di balik kegelapan. Di dalam prakteknya,  mulai dari minat menjadi TKI, melangkahkan kaki menuju RT, RW, Lurah,  Camat dan dinas depertemen tenaga kerja daerah, ternyata sebuah pergumulan, menguras  kesabaran, energi dan uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BP2NTKI, dibentuk pemerintah untuk mengatasi masalah yang ada. Akan tetapi sebaliknya hingga kini pungutan-pungutan terhadap TKI, kian banyak saja. Ada pendaftaran on line yang setidaknya 3 harus dilakukan PJTKI, melalui SISKOTKLN. Teknologi informasi yang sesungguhnya urusan hardware, software,dan konten, seakan menjadi momok kecanggihan, menjadi tempat tambahan  menghimpun dana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemirsa,Dalam kerangka inilah dialog kita kali ini. Dan ingat, ini Cuma baru masalah-masalah akan TKI yang akan berangkat ke luar negeri lho. Kita belum akan menyinggung masalah kembalinya. Di kanan saya …&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3331759007220291602-6312981192188307894?l=iwanpiliang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/feeds/6312981192188307894/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3331759007220291602&amp;postID=6312981192188307894' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default/6312981192188307894'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default/6312981192188307894'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/2007/12/menguras-energi-calon-tki.html' title='Menguras Energi Calon TKI'/><author><name>Narliswandi (Iwan) Piliang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18335517641358646511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/SvfRlddXxZI/AAAAAAAAADg/zxussI8F_EQ/S220/ayah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/R2h2v4kT0RI/AAAAAAAAABY/enkcYctznU4/s72-c/_+(4).JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3331759007220291602.post-4320079156355369035</id><published>2007-12-15T21:16:00.000-08:00</published><updated>2007-12-15T21:36:44.877-08:00</updated><title type='text'>Beralih ke Uang Riil atau Indonesia Tergadai</title><content type='html'>&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5144436633161158914" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/R2S13IkT0QI/AAAAAAAAABQ/6uzSj4dmMmM/s320/_+(3).JPG" border="0" /&gt;TAMU Press Talk, yang pengambailan gambarnya dilakukan pada 12 Desember 2007 lalu adalah (dari kiri ke kanan):  Muhaimin Iqbal, Ketua Perusahaan Asuransi Syariah, Hendri Saparini, Direktur Eksekutif Econit dan Ahmad Riawan Amin, Ketua Bank Sayriah Indonesia, yang juga Ketua Perbankan Syariah Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana tag line program teve ini; Wadah Orang media dan Orang yang Ditulis Bicara. Topik yang dibicarakan adalah berawal dari buku yang ditulis Riawan Amin, berjudul Satanic Finance. Juga latar data yang saya sampaikan di awal diskusi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini 32 juta jiwa penduduk miskin  berpendapatan kurang dari Rp 180 ribu, sekitar US $ 20 saja perbulan. 150 orang terkaya menguasai APBN lebih dari 50 persen. Angka pengangguran masih di atas 30 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan  moneter berbunga tinggi mengimingi  pemilik modal tidak lari membuat biaya mahal. Bank Indonesia memberi bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI), membuat dana dari berbagai  daerah mengendap  tidak produktif.  Angkanya  lebih  Rp 60 triliun pertahun.  Sektor riil seakan  jalan di tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan wartawan, anggota PWI-Reformasi di daerah, aksi melego  Sumber Daya Alam  kian hari kian kencang saja.  Di sebuah kabupaten di Kalimantan Timur, lahan berdeposit batubara mencapai 50 juta ton, izin konsesinya dijual cuma Rp 20 miliar kepada asing.  Padahal di dalam tanah Kalimantan itu beragam kekayaan hayati ada. Beragam mineral hingga uranium bukan mustahil sedikit. Izin tambang dikapling-kapling lalu  dilego demi lembaran kertas yang disebut uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebun-kebun sawit di Sumatera dan Kalimantan pun kini saban hari diincar asing, yang membawa lembaran kertas bercetak yang dibubuhi angka itu, yang kita sebut fulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain sisi peran  negera dalam perekonomian  untuk melindungi kepentingan rakyat,  terutama sektor  menguasai  hajat hidup orang banyak tinggal 14% saja. Privatisasi mengalir  bak air bah, menjadikan negeri ini lebih liberal  dari Mbahnya  liberal  Amerika Serikat, yang masih mengendalikan  39% segala sesuatu yang menguasai hajat hidup orang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak  berlebihan bila Uni Lubis, Editor Club,  yang  pernah tampil di PRESS TALK bercerita. Ia terlibat menyusun RUU Penyiaran selama 3 bulan. Tetapi pada hari H diketuk palu jadi UU, rancangan yang susah payah dibuat menjadi sia-sia. Begitu disahkan,  isinya persis macam UU penyiaran di  Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak  ada lagi  bank sebagai agen pembangunan.  Apalagi modal ventura riil untuk industri berbasis budaya  yang kaya di Indonesia, semakin jauh panggang dari api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pragmatisme menjual sumber daya  alam, demi kepentingan mengejar kedudukan politik dan pemerintahan, harus “dibeli” dengan  lembaran kertas yang disebut hepeng. Orientasi  berkonsentrasi berproduk dan berjasa, yang menjadi identitas utama  basis pengusaha, menjadi minim. Kondisi instan mengejar uang, karena kata  orang Tapanuli sana: Hepeng Mengatur Nagaraon. Nanghadong Hepeng, Matehok!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kerangka inilah topik Beralih ke Uang Riil atau Indonesia Tergadai, menjadi alasan diskusi. Dan yang mengejutkan, ternyata harga kambing dari zaman Rasulullah Muhammad hingga saat ini, tetap di kisaran satu dinar (4,25 gram emas 22 karat). US $ sudah mengalami penurunan yang tak terkira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan kembali ke mata uang riil, apapun judul, dolar pun boleh, asal memiliki keadilan, dengan mengacu ke emas dan perak,  menjadi solusi untuk keluar dari cengkeraman kemelaratan yang kian tajam akan terjadi di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi skenario melarang Indonesia beralih ke emas memang ada dalam klausul perjanjian dengan IMF. padahal penerbang tempur AS, sebelum take off selalu mengecek persedian koin emas yang harus dibawa. Sehingga bila pesawat  jatuh di tempat dan negara manapun, emasnya dapat dijual. Lembaran kertas, apapun namanya, bisa terbakar - - lebih jauh dia hanyalah kertas yang dicetak dan diberi angka. Lembaran-lembaran kertas inilah yang ditukar dengan aset SDA bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem moneter pun memang sedang sangat kejam "menjajah" Indonesia. Undang-Undang independensi Bank Indonesia, menjadi layak dipertanyakan, bila acuannya ingin mensejahterakan bangsa.(I)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3331759007220291602-4320079156355369035?l=iwanpiliang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/feeds/4320079156355369035/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3331759007220291602&amp;postID=4320079156355369035' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default/4320079156355369035'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default/4320079156355369035'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/2007/12/beralih-ke-uang-riil-atau-indonesia.html' title='Beralih ke Uang Riil atau Indonesia Tergadai'/><author><name>Narliswandi (Iwan) Piliang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18335517641358646511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/SvfRlddXxZI/AAAAAAAAADg/zxussI8F_EQ/S220/ayah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/R2S13IkT0QI/AAAAAAAAABQ/6uzSj4dmMmM/s72-c/_+(3).JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3331759007220291602.post-3139954014846204263</id><published>2007-11-28T21:00:00.000-08:00</published><updated>2007-11-28T21:14:14.478-08:00</updated><title type='text'>Warisan Budaya Bernilai Ekonomi</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/R05HsxGbw1I/AAAAAAAAAA0/eM_U-p5drCk/s1600-h/_+(2).JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5138123059296453458" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/R05HsxGbw1I/AAAAAAAAAA0/eM_U-p5drCk/s320/_+(2).JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Press Talk perekaman gambar yang ke-3, sampai juga ke masalah judul blog ini. Rekaman gambar dilakukan kemarin, Rabu, pukul 17. Judul yang dibahas Warisan Budaya Bernilai Ekonomi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tamu yang hadir: Andy Noorsaman Sommeng, Dirjen HAKI - - saya mengenalnya sejak masih menjadi direktur TI Ditjen HAKI. Kedua Edi Sedyawati, mantan Dirjen Kebudayaan, yang saya kenal sejak 1996. Ketiga Maria Tjin, pelaku industri konten (animasi, games) dari rumah produksi Castle studio dan Multimedia College. Ia kawan seperjuangan ketika pernah mencoba menjadikan animsi sebuah industri di Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sesuai tag line, program ini adalah Wadah Orang Media dan Orang yang Ditulis Media Bicara.  Di promonya kami  mengatakan dengan Pertanyaan yang Tajam, Jawaban Tamu yang Cerdas, hanya di Press talk.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya yakin, masih ada ceruk di dunia &lt;em&gt;talk show&lt;/em&gt;, untuk tampil informatif, cerdas, jenaka dan sekaligus &lt;em&gt;entertaining&lt;/em&gt; - - tanpa  harus  menjadi host yang "menselebriti".  Setiap akhir acara, saya selalu menanyakan kepada tamu, apa komentarnya tentang dialog yang sudah berlangsung? Ke-3 tamu ini serentak menjawab, bagus, berbeda, senang! Dan mereka ingin tampil lagi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Semoga program ini memang mampu membawa sesuatu yang memberi arti.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Penayangan perdana episode Warisan Budaya Bernilai Enonomi ini pada  Senin, 5 Desember 2007 di Qtv pukul 23.00,  re-run Rabu, pukul 17 dan di SWARA, Jumat, pukul 14. Semoga proram ini mendapat hati pemirsa dan berkesinambungan. Amin (IP)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3331759007220291602-3139954014846204263?l=iwanpiliang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/feeds/3139954014846204263/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3331759007220291602&amp;postID=3139954014846204263' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default/3139954014846204263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default/3139954014846204263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/2007/11/warisan-budaya-bernilai-ekonomi.html' title='Warisan Budaya Bernilai Ekonomi'/><author><name>Narliswandi (Iwan) Piliang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18335517641358646511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/SvfRlddXxZI/AAAAAAAAADg/zxussI8F_EQ/S220/ayah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/R05HsxGbw1I/AAAAAAAAAA0/eM_U-p5drCk/s72-c/_+(2).JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3331759007220291602.post-2256449839030046590</id><published>2007-11-26T01:57:00.000-08:00</published><updated>2007-11-26T02:12:05.580-08:00</updated><title type='text'>Tiga Bulan Tepat Setelah KLB</title><content type='html'>TIDAK terasa waktu telah lewat  tiga bulan setelah Kongres Luar Biasa PWI-Reformasi, Subang. Hari ini 26 November 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tiga bulan ini, tentu belumlah banyak yang dihasilkan di bawah kepengurusan saya sebagai Ketua Umum Kornas. Tetapi bila dibandingkan dengan perjalanan panjang  8 tahun 9 sembilan  bulan yang sudah dilewati oleh organisasi PWI-Reformasi, terobosan-terobosan telah dilakukan. Terobosan itu antara lain; berusaha memiliki majalah sendiri, berusaha memiliki program teve sendiri, juga berusaha membuka media on line sendiri. Ketiganya  dalam proses tayang dan beredar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa penting bermedia?  Banyak pemikiran, sisi visi dan misi organisasi secara fokus hanya dapat disosialisasikan melalui media yang dikelola sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain sisi, visi, misi, dan program yang sudah dijabarkan melalui selembar bulkonah (bulat, kotak dan panah), seharusnya dapat menjadi mempermudah memberikan pemahaman bagi siapapun, anggota, terlebih pengurus. Dalam  3 tahun kepengurusan ini, ditargetkan  untuk memiliki anggota 3.000 orang. Beban utama tentu terletak di Korda Jakarta. Karena di kota metropolitan inilah, jumlah wartawan berjibun mukim. Ini, salah satu contoh, mengapa pentingnya mengacu ke visi, misi dan program kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi, misi dan program kerja itu, sudah menjadi keputusan KLB Subang. Dan juga sudah menjadi keputusan rapat pleno pertama kepengurusan PWI-Reformasi. Langgam seirama, membuka diri, agar tidak terjebak menjadi organisasi yang macam kodok dalam batok, merupakan pekerjaan rumah utama bagi setiap Korda. Sudah tidak zamannya, hanya membangun komunitas yang anggotanya dari tahun ke tahun itu ke itu saja. Sebuah Korda yang hidup di kota besar, memang harus tumbuh besar anggotanya, harus dinamis orang-orangnya. Bila tidak, oragnisasi PWI-Reformasi di suatu daerah, hanya menjadi kerdil. (IP)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3331759007220291602-2256449839030046590?l=iwanpiliang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/feeds/2256449839030046590/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3331759007220291602&amp;postID=2256449839030046590' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default/2256449839030046590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default/2256449839030046590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/2007/11/tiga-bulan-tepat-setelah-klb.html' title='Tiga Bulan Tepat Setelah KLB'/><author><name>Narliswandi (Iwan) Piliang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18335517641358646511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/SvfRlddXxZI/AAAAAAAAADg/zxussI8F_EQ/S220/ayah.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3331759007220291602.post-2785157979924879283</id><published>2007-11-22T19:42:00.000-08:00</published><updated>2007-11-22T20:05:23.659-08:00</updated><title type='text'>Testimoni Industri Kreatif dan Media</title><content type='html'>Bila disimak beberapa kabar di blog ini, tampak fokus ke program media watch, termasuk program teve PRESS TALK yang digagas PWI-Reformasi untuk Qtv, di mana saya sebagai Ketua Umum Kornasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengantar di blog berjudul Credential Asset yang Bangkit, lebih cenderung bicara konten  teknologi informasi, konten web dan seterusnya. Jawabnya adalah: saya pribadi, selain  jurnalis, pada waktu lalu pernah menjadi praktisi di industri animasi, juga mencoba melirik peluang di mobile content - - game, baik untuk yang berbasis aplikasi Java terutama CDMA, juga kini mengamati perkembangan Mirosoft Mobile 6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memiliki seorang kolega programer, lulusan UCLA, AS,  yang bersama-sama  pernah mebuat animasi 3D wayang untuk konten simulation ride. Ia Anthony Seger.  Kini ia sedang melakukan development game untuk Microsoft Mobile 6. Anthony, sosok yang pernah mengantungi  uang lebih dari US $ 2 juta. Dana itu kebanyakan  habis untuk mengembangkan proyek-proyek baru yang menurut jabaran bangsa ini, intangible - - terutama bahasa bank, bahkan penilian Bank Indonesia. Ia bercita-cita, dalam waktu yang dekat bisa membeli &lt;em&gt;Gulfstream 33- sitter&lt;/em&gt;, pesawat jet pribadi yang menjelajah &lt;em&gt;trans pacific&lt;/em&gt;. Dan saya sangat yakin suatu waktu ia bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan hal hubungannya saya dengan Athony, saya sangat percaya, untuk mengubah segala sesuatu yang &lt;em&gt;nggak&lt;/em&gt; karuan di negeri,  adalah melalui laku independen, tumbuhnya masyarakat madani yang mendapatkan income dari US $, tidak bergantung ke proyek  pemerintah dan sosok manapun. Manusia dengan karya demikian, dapat berbuat banyak, berbicara bebas, menegakkan sembilan elemen jurnalistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menabalkan blog ini, memang, untuk itu, dengan sangat optimis. Optimis sekali.  Dasarnya kita sebagai bangsa, memiliki asset budaya yang luar biasa - - jauh lebih luar biasa dibandingkan hutan, ikan, tambang dan seterusnya. Cuma, pejabat, pemerintah kita, memang, bego, atau keblinger. Segala yang ada sekarang hanya dilihat dari yang tampak, tangible. Yang tidak kelihatan bukan asset.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka mampuslahkau Indonesia, macam lagu dibajak, batik dibajak, genetik anjing Kintamani,Bali  dibajak dan deretan panjang lainnya. Brain drain mengalir ke luar negeri. Salah siapa. Salah Malayasiakah. Hanya orang-orang bengak yang selalu menyalahkan orang lain, bukan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu dasar, maka di akhir pengantar blog, saya katakan, bahwa melalui konten budaya yang menjadi industri akan meraih US $ tak berbatas, bukanlah isapan jempol beleka. (IP)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3331759007220291602-2785157979924879283?l=iwanpiliang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/feeds/2785157979924879283/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3331759007220291602&amp;postID=2785157979924879283' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default/2785157979924879283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default/2785157979924879283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/2007/11/testimoni-industri-kreatif-dan-media.html' title='Testimoni Industri Kreatif dan Media'/><author><name>Narliswandi (Iwan) Piliang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18335517641358646511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/SvfRlddXxZI/AAAAAAAAADg/zxussI8F_EQ/S220/ayah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3331759007220291602.post-9132041018427975792</id><published>2007-11-22T07:04:00.000-08:00</published><updated>2007-11-22T07:29:52.619-08:00</updated><title type='text'>PUNDI BI MENGALIR ke DPR</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/R0Wba_Qy3tI/AAAAAAAAAAk/G2fDUPkARYE/s1600-h/pt22nov.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5135681838046699218" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/R0Wba_Qy3tI/AAAAAAAAAAk/G2fDUPkARYE/s320/pt22nov.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; PENGAMBILAN gambar &lt;span style="color:#3366ff;"&gt;PRESS TALK, Wadah Orang Media dan Orang yang Ditulis Media&lt;/span&gt; &lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Bicara,&lt;/span&gt; Episode 2 tadi siang pukul 11, sudah dilakukan. Tampak sebagai tamu, dari kiri ke kanan, Irsyad Sudiro, Ketua Dewan Kehormatan DPR, Adi Warman, anggota Gerakan Nasional Pemberantasan Korupsi, Uni Lubis, Wapemred AN TV, dalam kapasitasnya sebagai anggota Editor Club. Topik: PUNDI BI MENGALIR KE DPR, sebagai persembahan PWI-Reformasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari awal minggu ini Kornas sudah menyurati Gubernur Bank Indonesia untuk hadir dalam PRESS TALK. Tetapi setelah melalui berbagai cara, termasuk Bung Didik L Pambudi mendatangi BI, mereka tetap bersikokoh, tidak mau datang. Jadilah talkshow ini tanpa kehadiran BI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati demikian dialog cerdas, hangat dan jenaka tetap berlangsung, seakan waktu yang tersedia memang menjadi sangat kurang. Ada pertanyaan tajam ke Uni soal Editor Club yang menerima Rp 15 miliar dari Bank Indonesia, BK DPR yang terkesan lamban bekerja, sementara indikasi kasus korupsi memerlukan cara-cara, yang menurut Uni, extra ordinary, Adi Warman menyebut harus dengan cara-cara terjun bebas, saya mengatakan harus mengibarkan bendera setinggi-tingginya - - di mana KPK menjadi tumpuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata bapak bingung yang saya lontar kepada Irsyad Sudiro mengundang tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya, menurut Didik L Pambudi yang menyimak di studio, seluruh crew Qtv berderai tawa, saya pun sebetulnya tak tahan menahan geli, setelah "Bapak Bingung" saya lontarkan kepada seorang Irsyad Sudiro, yang ketua Dewan Kehormatan DPR-itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan memuji program sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi menurut kawan-kawan yang menyaksikan, PRESS TALK kian heboh, dan menarik menjadi sebuah tontonan. Semoga memang demikian dan saya sendiri berharap pada episode ke-3 akan lebih baik lagi. Tinggal menunggu penayangannya di kanal teve berlangganan, Indoviosion, Kabelvison dan Telkomvision, awal Desember 2007 mendatang(IP)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3331759007220291602-9132041018427975792?l=iwanpiliang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/feeds/9132041018427975792/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3331759007220291602&amp;postID=9132041018427975792' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default/9132041018427975792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default/9132041018427975792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/2007/11/pengambilan-gambar-press-talk-wadah.html' title='PUNDI BI MENGALIR ke DPR'/><author><name>Narliswandi (Iwan) Piliang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18335517641358646511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/SvfRlddXxZI/AAAAAAAAADg/zxussI8F_EQ/S220/ayah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/R0Wba_Qy3tI/AAAAAAAAAAk/G2fDUPkARYE/s72-c/pt22nov.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3331759007220291602.post-6437923022676099157</id><published>2007-11-20T16:54:00.000-08:00</published><updated>2007-11-20T17:07:25.974-08:00</updated><title type='text'>HUT PWI-Reformasi ke-9 Hari Ini</title><content type='html'>TIDAK terasa hari ini PWI-Reformasi genap berusia genap 9 tahun. Saya kutip lead  dan alinea kedua kolom  Budiman S Hartoyo, yang akan dimuat majalah TEDAS, Bedah edia dan Jurnalisme, yang akan diterbitkan oleh Kornas PWI-Reformasi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;SIANG itu langit di atas Solo mendung. Dalam cuaca lembab itu, sembilan tahun yang lalu, saya bernostalgia di kampung halaman – setelah sehari sebelumnya menjadi salah seorang panelis dalam sebuah diskusi di Yogyakarta. Di masa remaja dulu, 40 tahun silam, ada sebuah kawasan di pusat kota Solo, tempat saya sering membaca koran. Saya masih ingat, kawasan itu di sekitar perempatan Pasar Pon, antara gedung bioskop Ura Patria dan Dhady di Jalan Brigjen Slamet Riyadi di jantung kota. Di sanalah saya, dari kios ke kios, membaca koran. Gratis, tentu.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Siang itu, sembilan tahun lalu, di salah satu kios yang sudah berganti pemilik, saya membeli beberapa koran lokal: Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Radar Jateng. Setiap kali berkunjung ke suatu daerah, saya memang lazim membeli beberapa koran terbitan setempat. Di halaman dalam Radar Jateng edisi 22 November 1998, dimuat sebuah berita dua kolom yang kurang menyolok tentang Sarasehan Sehari Menyelamatkan PWI dengan tema Wartawan Menggugat di Hotel Radisson, Yogyakarta, 21 November 1998.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini menjadi sangat penting, karena ditulis oleh pelaku sejarah PWI-Reformasi. Berikut alinea ke-6-nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Di tengah perdebatan sengit, menjelang diskusi berakhir, saya sempat menyampaikan secarik kertas kepada moderator, menyarankan agar Dahlan Iskan – yang berdiri di ambang pintu masuk – diminta mengemukakan pendapatnya. Maka sang moderator pun memanggil bos Grup Jawa Pos itu untuk tampil. Serta-merta, Dahlan Iskan pun maju ke podium. Hanya selama lebih kurang tiga menit, menegaskan, “Saya tidak akan banyak bicara. Saya menganjurkan, sekarang juga kita bentuk PWI-Reformasi atau PWI-Independen.” Langsung turun, ia diguyur tepuk tangan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya dapat dibaca di TEDAS yang akan segera terbit.  PRESS TALK  di Qtv , TEDAS, dan situs &lt;a href="http://www.jurnalis-indonesia.com/"&gt;www.jurnalis-indonesia.com&lt;/a&gt; (masih persiapan), adalah tiga produk media yang diprakarsai Kornas PWI-Reformasi, sebagai persembahan bagi ULANG TAHUN ke-9 organisasi. Semoga di tahun mendatang keberadaannya kian memberi arti  menuju  kembalinya kekuatan keempat dalam demokrasi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3331759007220291602-6437923022676099157?l=iwanpiliang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/feeds/6437923022676099157/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3331759007220291602&amp;postID=6437923022676099157' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default/6437923022676099157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default/6437923022676099157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/2007/11/hut-pwi-reformasi-ke-9-hari-ini.html' title='HUT PWI-Reformasi ke-9 Hari Ini'/><author><name>Narliswandi (Iwan) Piliang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18335517641358646511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/SvfRlddXxZI/AAAAAAAAADg/zxussI8F_EQ/S220/ayah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3331759007220291602.post-7234612579271043355</id><published>2007-11-20T08:19:00.000-08:00</published><updated>2007-11-20T08:39:16.384-08:00</updated><title type='text'>Jurnalis Bangga Berfoto dengan Orang Terkaya</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/R0MKl_Qy3sI/AAAAAAAAAAc/lcHaT1jtox0/s1600-h/sukanto-pemred-komplit.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5134959647885811394" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/R0MKl_Qy3sI/AAAAAAAAAAc/lcHaT1jtox0/s320/sukanto-pemred-komplit.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; UNTUK apa menjadi wartawan? Jawaban pertanyaan ini dapat dengan jernih saya tangkap dari Metta Dharmasaputra, redaktur investigasi TEMPO. Ada kebanggaan jika memverifikasi data, menemukan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain sisi wartawan, bila mengacu ke buku Sembilan Elemen Jurnalisme, Bill Kovach, diperbolehkan mengikuti hati nuraninya. Bagimana mengikuti nurani wartawan yang begitu bangganya berfoto dengan Soekanto Tanoto, orang terkaya nomor 1 di Indonesia menurut majalah Forbes 2006? Jika Sokenato terbukti menggelapkan pajak dalam skala tambun? Dan lebih gila penggelapan pajak itu masuk ke dalam AAA-Cross Border Tax Planning &lt;em&gt;(under pricing of export sales),&lt;/em&gt; yang maha besar? Dan naif bin, entahlah lema dan diksi apa,  yang harus ditulis menyebut wartawan yang berpose dengan Soekanto Tanoto, yang pernah dimuat di Investor Daily, September 2007 - - di saat kasus penyadapan telepon wartawan TEMPO, justeru menghangat, ke luar dari fokus menjerat PT Asian Agri, grup Raja Garuda Mas (milik Sokenato Tanoto), yang memang sudah terbukti menggelapkan pajak mencapai Rp 1,3 triliun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih gila bila para petinggi negeri ini, termasuk Jusuf Kalla, cuma melihat penyelesaian denda, seperti ia sampaikan 2 November 2007, menanggapi penyelesiaan PT Asian Agri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JADI,  SAUDARA-SAUDARA, mari "maling" sebanyak-banyak dari negeri ini, bila perlu Rp 100 triliun ke atas. Nah, nanti bayar denda, urusan bisa beres. Dan wartawan, pasti berlomba-lombalah meminta berfoto bersama, BANGGA. Jurnalis-jurnalis? Lebih gila, jurnalisnya dari media papan atas pula? Ampun  deh!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3331759007220291602-7234612579271043355?l=iwanpiliang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/feeds/7234612579271043355/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3331759007220291602&amp;postID=7234612579271043355' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default/7234612579271043355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default/7234612579271043355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/2007/11/jurnalis-bangga-berfoto-dengan-orang.html' title='Jurnalis Bangga Berfoto dengan Orang Terkaya'/><author><name>Narliswandi (Iwan) Piliang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18335517641358646511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/SvfRlddXxZI/AAAAAAAAADg/zxussI8F_EQ/S220/ayah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/R0MKl_Qy3sI/AAAAAAAAAAc/lcHaT1jtox0/s72-c/sukanto-pemred-komplit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3331759007220291602.post-1751735910519774984</id><published>2007-11-17T23:49:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T00:55:57.895-08:00</updated><title type='text'>Mengkaji Ulang Profesionalisme Wartawan</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/Rz_wyPQy3qI/AAAAAAAAAAM/wAS8L2tZQPI/s1600-h/_+(1).JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5134086846106754722" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/Rz_wyPQy3qI/AAAAAAAAAAM/wAS8L2tZQPI/s320/_+(1).JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;METTA Dharmasaputra, Redaktur Investigasi TEMPO,  berdiri di depan ruang Nusantara Lima, Gedung DPR RI. Pria  berkamata ini, tampak santai. Sesuai janji, Kamis, 15 November 2007, adalah hari pertama dilakukannya pengambilan gambar program teve Press Talk, yang direncanakan on air di Qtv pada awal Desember 2007 mendatang.  (Di foto  Metta tampak mengenakan kemeja lengan panjang abu-abu). Ia menjadi bintang utama Press Talk, karena topik membahas mengapa hasil investigasi TEMPO terhadap penggelapan pajak PT Asian Agri, dari kelompok usaha Raja Garuda Mas (RGM)  - - milik pengusaha Soekanto Tanoto, yang menurut majalah Forbes menjadi orang terkaya nomor 1 di Indonesia - - belum juga menunjukkan tanda-tanda eksekusi.  &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Penggelapan pajak perusahaan itu, kini sudah terbukti mencapai Rp 13, triliun. Di lain sisi, Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI, berpendapat bahwa sebaiknya kasus ini diselesaikan dengan cara membayar denda, karena dimungkinkan oleh UU nomor 28,2007 , tentang pajak, khususnya pasal 44B, di mana penggelap pajak jika terbukti maka  harus membayar  maksimal hingga 400% dari pajak yang digelapkan.  Jika jalur ini yang dipilih, menjadi sebuah ketentuan hukum yang menyayat-nyayat hati bak sembilu, karena tidak lagi  melihat sisi kriminal, menginjak-nginjak moral dan hati nurani.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Preseden ini  kian memperkuat  bahwa berbagai tataran  hukum di negeri ini hanya kian berpihak kepada kekuatan kapital, kepada kekuasaan. Uang seakan menjadi raja di raja. Inilah &lt;em&gt;angle &lt;/em&gt;diskusi Press talk edisi perdana. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya pribadi memang mempertanyakan, bahwa mengharapkan  keadilan di negeri ini laksana menegakkan benang basah. Bagaimana tidak, departemen yang mengurus keadilan hanya diberi judul Departemen Kehakiman, bukan Departemen Keadilan &lt;em&gt;(Department of Justice)&lt;/em&gt;, sebagaimana di negara yang lebih beradab dan hukum di atas segalanya. Oleh karena secara bercanda, kepada kawan-kawan saya katakan, bila salah satu dari Anda duduk di kebinet mendatang, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengusulkan mengubah judul departemen.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Peserta diskusi  Press Talk lainnya,  Dhaniswara K Harjono. Ia pengusaha yang saya kenal ketika aktif di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Orangnya kalem. Dulu ia pernah menggeluti bisnis hak pengusahaan hutan (HPH). Pada suatu masa,  penyelundupan kayu ke luar negeri menjadi pilihan, bila sang pengusaha  tidak ingin tenggelam. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hingga kini hasil selundupan kayu itu, bila kita melihat di hamparan laut di negeri Cina sana, menghampar log jati ribuan kubik dari Indonesia. Dan efeknya, nikmatilah ekspor propduk furnitur jati  Cina membanjiri Amerika dan Eropa dengan harga sangat murah - - antara lain dengan mengakali ukiran berformat jati sintetis, berbahan resin, hanya bagian utama dari bahan kayu. Dan Cina kini memiliki deposit kayu jati yang besar, sekadar contoh.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dhaniswara memilih mundur karena banyak hal yang terjadi  bertentangan dengan hati nuraninya. Ia mencoba peruntungan di bisnis penggemukan ternak di Lampung, namun keberhasilan pun tidak datang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Akhirnya ia memilih pulang ke habitatnya sebagai konsultan hukum - - basis pendidikan yang digelutinya.  Kini Dhanis sudah menerbitkan dua buah buku tentang hukum investasi. Selain bekerja sebagai konsultan hukum, ia juga menjadi redaktur majalah Pengusaha. Kini dengan rendah hati ia berkenan menjadi konsultan hukum PWI-Reformasi, yang siap bekerja dengan pro bono. (Dhanis di dalam foto berjas, di sebelah kiri)&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Peserta dialog berikutnya, adalah sosok Budiman S. Hartoyo. Sosok 68 tahun ini, tampak jauh lebih muda dari umurnya. Tak terbantahkan, bila PWI-Reformasi, hingga hari ini masih ada dan terus berkiprah, karena dialah orang yang tanpa capek selalu meng-SMS ke seluruh Indonesia agar kordinator daerah aktif, bergerak, bagi tumbuhnya jurnalis yang profesional, jurnalis yang bagus menulisnya dan tidak menerima amplop.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Perkenalan saya dengan BSH (begitu ia akrab disapa), boleh dibilang secara tidak terduga.  Ketika 1979 saya mara ke Jakarta,  ayah dan ibu saya sudah menetap terlebih dahulu di sebuah gang kecil di Jl. Angrek Raya, Kuningan, Jakarta Selatan - - sebuah jalan yang persis berada di belakang Wisma Metropolitan, Jakarta. Ia juga dapat ditembus dari arah Jl HR. Rasuna Said, dari arah  Gedung Bakrie, Rumah Sakit AINI terus ke dalam. BSH tinggal di Jl.  Angrek Raya, yang bersebelahan dengan tempat usaha ayah saya yang kala itu penjahit.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Layaknya orang bersebelahan, hubungan saya dengan BSH, bukan saja sebagai rukun tetangga, tetapi juga hubungan  guru dan murid  di bidang tulis menulis. Ia sekaligus  "orang tua" saya.  Kami sekeluarga tidak akan pernah lupa  setiap menyaksikan rumah BSH, yang kini telah menjadi restoran ikan bakar Banyuwangi, di sebelah masjid Babussalam, Karet Kuningan itu. Setiap aroma ikan bakar di siang hari mengepul dari  restoran yang padat dikunjungi oleh orang kantoran dari Sudirman dan Kuningan itu, kala itu  itu pula bayangan  akan BSH  dan isterinya muncul. Ibu saya selalu menyayangkan, mengapa rumah itu dijual BSH pada penghujung 80-an lalu dan pindah ke daerah Jati Bening, Jakarta Timur, yang macet dan banjir itu?&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Nah, saya, sebagaimana tampak di foto, yang berjas di sebelah kanan. Mengapa pakai jas? Dulu saya cuek dengan penampilan. Akan tetapi karena di  negeri ini keberadaan seseorang memang sangat dinilai  dari segala sesuatu yang melekat di kulit, maka saya berjaslah! Tetapi lebih penting adalah, bak kata Dhaniswara ke saya,"Berpenampilan bagus, biar kita nggak dikira orang mau minta uang."&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Minta uang atau tidak, yang terpenting bagi saya adalah, dengan berjas ria, saya mempersembahkannya bagi menghargai sosok Metta yang luar biasa, yang  membuahkan hasil, membuktikan penggelapan pajak PT Asian Agri yang kini sudah mencapai Rp 1,3 triliun, sebuah reportase investigasi yang mumpuni. Juga penghormatan kepada BSH,  juga kepada Dhaniswara K Harjono, yang ketika bergaul sesama di HIPMI, dialah satu-satunya kawan yang menghargai nilai kerja otak, nilai sebuah penghargaan kepada moral. Lain tidak!(IP) &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3331759007220291602-1751735910519774984?l=iwanpiliang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/feeds/1751735910519774984/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3331759007220291602&amp;postID=1751735910519774984' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default/1751735910519774984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default/1751735910519774984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/2007/11/mengkaji-ulang-profesionalisme-wartawan.html' title='Mengkaji Ulang Profesionalisme Wartawan'/><author><name>Narliswandi (Iwan) Piliang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18335517641358646511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/SvfRlddXxZI/AAAAAAAAADg/zxussI8F_EQ/S220/ayah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/Rz_wyPQy3qI/AAAAAAAAAAM/wAS8L2tZQPI/s72-c/_+(1).JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3331759007220291602.post-3747065376857531899</id><published>2007-11-17T04:27:00.000-08:00</published><updated>2007-11-17T04:33:29.407-08:00</updated><title type='text'>BAB PERJALANAN HIDUP</title><content type='html'>Pada  blog ini saya memaparkan berdasarkan bab dan judul yang saya coba tulis secara literair, sebagai pembelajaran untuk diri sendiri, benarkah saya dapat menjadi penulis literair?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian awal adalah Rekaman Gambar Perdana PRESS Talk, sebuah program televisi yang segera on air di Qtv, wahana untuk orang media dan orang yang ditulis media bicara. Program ini sebagai bagian dari upaya Persatuan wartawan Indonesia Reformasi (PWI-Reformasi) yang berulangtahun ke-9 pada 21 November 2007, di mana saya secara tak terduga menjabat Ketua Umum Kordinator Nasional-nya, hasil Kongres uar Biasa di Subang, Jawa barat, pada Agustus 2007 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab dan judul lain akan segera menyusul. Selamat membaca, semoga bermanfaat. Kami tunggu kritik, masukan dan opini Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3331759007220291602-3747065376857531899?l=iwanpiliang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/feeds/3747065376857531899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3331759007220291602&amp;postID=3747065376857531899' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default/3747065376857531899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3331759007220291602/posts/default/3747065376857531899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iwanpiliang.blogspot.com/2007/11/bab-perjalanan-hidup.html' title='BAB PERJALANAN HIDUP'/><author><name>Narliswandi (Iwan) Piliang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18335517641358646511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_IP0zZAs4xRU/SvfRlddXxZI/AAAAAAAAADg/zxussI8F_EQ/S220/ayah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
